PELINDUNG TELAH PERGI
PELINDUNG TELAH PERGI
Namaku Anandia. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, ibuku bekerja sebagai pegawai swasta di sebuah bank dan ayahku seorang pegawai negeri. Sayangnya, ibu dan ayahku sudah berpisah sejak umurku 10 tahun. Ayahku kemudian memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain. Rasanya sakit sekali. Di usia yang sangat belia, aku harus menerima masa-masa pahit itu. Harusnya anak seusiaku itu masih berbahagia bersama keluarga yang lengkap, namun tidak begitu kisahku.
Umurku sekarang sudah 18 tahun. Aku tinggal bersama ibuku. Aku sangat menyayanginya karena ibulah yang menjadi ibu sekaligus ayah bagiku. Setelah orang tuaku berpisah, sekalipun ayah tidak pernah menemuiku. Dulu saat usiaku 11 tahun, aku sering meminta ibu untuk menelepon ayah karena aku ingin bicara dengannya. Namun, setiap kali ditelepon ayah tidak pernah mengangkatnya. Sampailah aku tumbuh remaja dan sudah memahami semua hal tentang perceraian orang tuaku, mulai saat itu aku tidak pernah menanyakan kabar ayah lagi. Walau terkadang masih tersirat sedikit kerinduan kepada ayah, tetapi aku menahannya.
Sekarang aku sudah dewasa dan melanjutkan kuliah di sebuah universitas terkenal di kotaku. Aku mengambil jurusan kepariwisataan dan sudah semester tiga. Aku termasuk salah satu mahasiswa yang pintar dan berbakat dalam bidang seni dan public speaking di kampusku, tetapi sayangnya aku tidak mendapatkan beasiswa karena masih ada mahasiswa lain yang lebih pintar dariku. Itu bukanlah sebuah masalah bagiku. Bakatku di bidang seni kemudian membawaku pada beberapa kegiatan di kampus dan acara-acara di kotaku.
Waktu berlalu sangat cepat, hingga sampailah pada hari dimana aku diminta untuk datang ke tempat biasanya aku latihan menari. Ya, aku senang menari. Kabarnya, aku diajak untuk mengikuti sebuah lomba seni tari kreasi yang akan diadakan minggu depan. Aku dan teman-temanku diminta mewakili kota kami. Jujur, perasaanku sangat bahagia karena adanya lomba ini membuatku bisa mengembangkan bakatku.
Aku pun bergegas pulang untuk minta izin mengikuti lomba itu kepada ibu. Sesampai di rumah kulihat ibu sedang duduk menonton di depan TV, kudekati ibu dan kukatakan,
"Bu, boleh tidak aku ikut lomba tari kreasi yang diadakan di luar kota? Tidak jauh kok, hanya dua jam perjalanan dengan bus. Selama di sana, aku juga dibiayai oleh pemerintah daerah. Boleh ya, Bu? Nanti aku akan dapat uang untuk tambahan biaya kuliahku.”
"Ehm.. Kamu yakin?" tanya ibu padaku.
"Yakin sekali, Bu."
"Ya sudah, boleh. Tapi kamu harus ingat, di sana kamu jangan lupa makan, minum vitamin, jaga kesehatan, jangan terlalu capek, dan jangan lupa salat. Ingat ya, sayangnya ibu."
"Sip.." kataku sambil mengacung dua jempol ke arah ibu.
"Terus, kalau dinasihati sama pembimbing jangan melawan ya!"
"Iya, Ibu."
"Bahagia dunia akhirat ya, Nak.."
Aku sempat bingung dengan kalimat terakhir ibu, tapi aku hanya menganggap itu sebagai candaan.
Hari demi hari pun berlalu dan tibalah hari aku berangkat mengikuti lomba, semua sudah kusiapkan,
"Koper sudah, ponsel sudah, semuanya sudah. Tapi seperti ada yang belum, apa ya? Bu, sepertinya ada yang kurang."
"Ada apa, anaknya ibu?"
"Ibu tau enggak sepertinya barang bawaanku ada yang tinggal, tapi apa ya?"
"Eggak ada lagi kok, sudah semua. Ya sudah, itu kamu sudah ditunggui. Hati-hati ya, sayangnya ibu"
"Iya Ibu. Dadah.." kulambaikan tanganku pada ibu.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih, akhirnya kami tiba di kota tersebut. Aku langsung buru-buru mengambil ponsel untuk mengabari ibu bahwa aku sudah sampai.
Hari demi hari kami lewati. Pada hari ketiga, kami diminta untuk tampil. Jantungku berdetak kencang tidak karuan, namun aku tetap berusaha tenang. Kami tampil menari di atas panggung dan ditonton oleh banyak orang. Kelompokku menampilkan tarian dengan tampilan yang sangat sempurna. Ternyata setelah kami selesai menari, panitia langsung membacakan pengumuman pemenang. Aku terkejut mendengar itu. Kuucapkan Bismillah dan kuserahkan semuanya kepada Allah. Pengumuman pun dimulai, jantung lagi-lagi berdetak kencang tidak dapat dikontrol. Host mengumumkan pemenang dengan suara lantang,
"Juara tiga jatuh kepada Sanggar Inong Aceh"
"Huft.. Semuanya ku serahkan kepada Allah.” kata itu lagi yang terucap di mulutku.
Host melanjutkan pembacaan pemenang juara dua,
"Juara kedua jatuh kepada Sanggar Aneuk Aceh"
"Ya Allah, aku serahkan semuanya kepadaMu," lirihku dengan pasrah, "Bismillahirrahmanirrahim"
"Dan juara pertama jatuh kepadaa.. Selamat kepada Sanggar Aceh Raya"
"Alhamdulillah ya Allah," ucapku sambil bersujud, "Alhamdulillah terima kasih ya Allah" kata-kata itu yang tidak henti-hentinya kuucapkan sambil sujud.
---------
Acara sudah selesai. Kami kembali ke penginapan dan membersihkan diri, lalu beristirahat sejenak. Kuambil ponsel yang tidak kupegang sejak tadi pagi. Betapa terkejutnya, ternyata ada 20 kali panggilan dari tetanggaku di pukul 16:30. Entah apa yang terjadi. Aku memutuskan untuk menelepon kembali tetanggaku,
"Assalamualaikum, tadi Nte ada menelepon kemari ya? Ada apa Nte?"
Nte ialah panggilanku pada tetanggaku,
"Wa’alaikumusallam. Ada yang harus Nte kabari. Kamu kuat, kan? Kamu anak yang baik, kan? Sayang sama ibu, kan? Enggak mau lihat ibu sakit, kan?"
Aku bingung dengan semua pertanyaan itu.
"Haah? Ada apa sih, Nte? Seperti ada masalah saja. Ditanya sayang ibu apa tidak. Nte aneh." Aku tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi.
"Ibu sudah tidak ada."
"Tidak ada? Gimana itu maksudnya?"
"Iya, ibu kamu sudah meninggal dunia tadi sore."
"Enggak-enggak, enggak mungkin ibuku meninggal. Tadi pagi ibu baik-baik saja, malah aku bicara di telepon dengan ibu."
"Ibumu tadi siang tiba-tiba jatuh dari kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Kata dokter, ibu kamu sudah meninggal dunia."
Saat itu pandanganku langsung kosong dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Saat sadar aku sudah dikerumuni oleh orang-orang. Ada banyak suara yang kudengar, tapi entah apa yang dibicarakan. Tidak lama kemudian aku pun diajak pulang untuk melihat terakhir kalinya jenazah ibuku. Selama di perjalanan pandanganku hanya kosong, hanya suara yang terdengar di sekitarku. Dua jam waktu untuk sampai ke rumahku, di sana semua orang menunggu kedatanganku.
Setiba di rumah, aku berjalan menuju jenazah ibu. Kududuk di samping jenazah, kubuka selembar kain yang menutupi wajah ibu, kutatap wajahnya yang tersenyum seakan-akan aku mendengar bisikan bahwa aku harus kuat dan tegar walau ibu sudah tiada. Aku sempat kecewa saat itu karena tidak dapat memandikan jenazah ibu untuk terakhir kalinya. Semua ini terasa kosong dan hampa. Sepanjang jenazah ibu dibawa ke pemakaman, banyak orang yang menggandengku dan berbisik ‘Kamu harus kuat, Nak’, tetapi aku tidak memperhatikan siapa yang berkata seperti itu padaku.
Hari demi hari berganti, hidupku terasa hampa dan kemenanganku kemarin terasa tidak berguna. Penyemangatku sekarang sudah pergi untuk selamanya. Hidupku memang belum berakhir, tetapi impianku seperti sudah berakhir. Aku sempat putus asa selama beberapa minggu, lalu berlanjut sampai berbulan-bulan. Namun, teman-temanku mendukungku untuk keluar dari zona nyamanku. Aku mengambil keputusan untuk mencoba dan terus mencoba keluar dari zona ini. Akhirnya aku dapat kembali seperti dulu lagi. Kali ini tanpa dukungan keluarga, melainkan aku didukung oleh sahabat-sahabatku. Aku sempat berpikir juga bagaimana kalau aku tidak keluar dari zona ini, akan jadi apa aku ke depannya, akan makan apa. Tidak mungkin aku minta-minta ke saudara, tentu memalukan. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan karierku di dunia seni. Aku akan mulai mengikuti lomba-lomba lagi dan belajar dengan sungguh demi masa depanku.
Inilah akhir kisahku. Seharusnya aku pulang membawa berita bahagia untuk ibu, malah sebaliknya aku yang mendapatkan berita buruk. Untuk ibuku, semoga selalu bahagia di sana dan untuk diriku tetap kuat di dunia ini meskipun pelindungku sudah pergi.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tongkat Kepemimpinan Berpindah, Kepala MTsN Kota Sabang Resmi Lantik Pengurus OSIM 2026/2027
Kepala MTsN Kota Sabang, Muhammad Nasir S Pd, resmi melantik pengurus OSIM periode 2026/2027. Pengambilan sumpah jabatan di pimpin langsung kepala madrasah dan diikuti seluruh pengurus
Kasi Penmad Kemenag Sabang Tinjau Langsung Pelaksanaan TKA 2026 di MTsN Sabang
Kasi Penmad Kemenag Kota Sabang Hj Nuranifah S Ag M Pd dan Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Sabang Muhammad Nasir S Pd meninjau pelaksanaan TKA (Tes Kemampuan Akademik) guna memastikan
MEMBACA SENYAP MTsN SABANG
Membaca senyap MTsN Sabang edisi Selasa, 8 November 2022. Membaca senyap merupakan salah satu program Literasi MTsN Sabang dari sekian banyak program literasi lainnya. Membaca Senyap d
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag
Rerubangga MTsN 1 Sabang Menuju Siswa Berprestasi Dan Berkarya Oleh Sri Nilawati, S.Ag Tangga mer
Apel
Apel Siang ini terasa terik sekali matahari membakar wajah ku yang sudah semakin legam terbak
Duka
Duka hadirnya tak terduga sering tak didamba menghadapi Duka dengan sabar adalah Pahala bagi mereka yang percaya Kadang duka menghampiri saat hari begitu indah hingga air
Ayah
Ayah Aku tak pernah ingat hangat belaian tangan kekar mu namun aku percara Engkau selalu membelaiku Karena aku dapat merasakannya Hari ini usia ku bertambah “bukan bertamba
Yang Terabaikan
Yang Terabaikan Mengapa engkau melakukan apakah hanya karena mengejar penghargaan segera hentikan jika itu yang menjadi alasan Seberapa penting alasan itu jangan pernah en
Tulang Rusuk
Tulang Rusuk wahai engkau sang tulang rusuk berakhir sudah kini di hari Sabtu 29 Agustus 2020 Engkau tak pantas lagi menjadi tulang rusuk Menangis darah pun engkau Mulai hari ini
